MEMAHAMI DISIPLIN POSITIF
Perbedaan Hukuman dan Disiplin PositifHukuman berbeda dengan disiplin. Hukuman mengarah pada pengendalian perilaku anak, sementara disiplin lebih pada mengembangkan perilaku anak. Dengan demikian hukuman lebih mengarah pada bagaimana mengontrol perilaku atau tindakan anak sesuai dengan kemauan guru. Hal ini berbeda dengan disiplin yang menekankan tanggung jawab anak akan perilakunya, mengenai pengendalian diri serta kepercayaan bahwa anak mampu mengembangkan dan memahami bagaimana berperilaku yang pantas.
“Tujuan utama kedisiplinan adalah agar anak memahami tingkah lakunya sendiri, berinisiatif dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih, serta menghormati dirinya sendiri dan juga orang lain. Dengan kata lain, disiplin menanamkan proses pemikiran dan perilaku positif sepanjang hidup anak.”
Pendekatan hukuman dibangun atas ketidakpercayaan guru atau orang tua bahwa anak dapat mengembangkan perilakunya dan dapat bertanggung jawab akan tindakan yang dipilihnya. Sementara disiplin dibangun di atas relasi kepercayaan guru-anak atau orang tua-anak. Hukuman sementara bersifat jangka pendek, spontan, negatif, dan pasif sementara disiplin bersifat jangka panjang, positif dan aktif.
Berikut perbedaan hukuman dan disiplin positif:
Penanaman disiplin positif adalah:
|
Hukuman adalah:
|
Memberi alternatif lain pada anak
|
Hanya melarang anak
|
Mengakui dan menghargai upaya anak dan
tingkah laku mereka yang baik
|
Menanggapi perilaku negatif anak dengan cara
yang kasar
|
Anak menaati peraturan apabila merekadiajak
berdiskusi dan menyetujui peraturan tersebut
|
Anak menaati peraturan karena mereka diancam
atau diomeli
|
Konsisten, bimbingan yang tegas
|
Mengendalikan, memalukan, dan melecehkan
|
Positif dan menghargai anak
|
Negatif dan tidak menghargai anak
|
Tidak mengandung kekerasan baik secara fisik
maupun verbal
|
Mengandung kekerasan fisik maupun verbal
serta agresif
|
Konsekuensi logis yang bersinggungan secara
langsung dengan pelanggaran yang dilakukan oleh anak
|
Konsekuensi yang tidak logis dan tidak
bersinggungan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh anak
|
Anak harus berubah ketika perilaku mereka
memberi dampak negative pada orang lain
|
Anak harus dihukum karena memberi dampak
negative pada orang lain dan tidak menunjukkan bagaimana mereka dapat berubah
|
Memahami kemampuan, kebutuhan, kondisi dan
tingkat perkembangan individual anak
|
Tidak menghiraukan kemampuan, kebutuhan,
kondisi dan tingkat perkembangan individual anak
|
Mengajarkan anak untuk menanamkan
kedisiplinan pada diri mereka
|
Mengajarkan anak untuk berbuat baik hanya
ketika mereka takut dan dimarahi atau disetrap
|
Mendengarkan dan memberikan contoh
|
Secara terus menerus memarahi anak bahkan
hanya untuk pelanggaran kecil sekalipun sehingga mengakibatkan anak tidak
menghiraukan kita (mengabaikan kita atau tidak mendengarkan kita)
|
Memanfaatkan kesalahan sebagai peluang untuk
pembelajaran
|
Memaksa anak untuk mematuhi perarturan yang
tidak logis hanya karena “Anda mengatakan demikian”
|
Langsung menuju permasalahannya yaitu
perilaku anak bukan anaknya, dengan mengatakan “Apa yang kamu lakukan adalah
salah”
|
Permasalahan terletak pada anak bukan pada
perilaku anak, dengan mengatakan “Kamu bodoh, kamu salah”
|
Prinsip disiplin positif
Disiplin positif bukanlah hal yang terpisah
dari proses pendidikan. Ia terintegrasi dalam semua proses pendidikan baik
proses belajar di kelas, di luar kelas dan di dalam keluarga. Bahkan sebenarnya
disiplin positif itu adalah pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu disiplin
positif didasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan yaitu:
Menyeluruh (Holistik): Artinya bahwa pendekatan disiplin positif harus didasarkan pada kesadaran bahwa semua aspek proses belajar dan perkembangan anak saling mempengaruhisatu dengan yang lain. Misalnya, perilaku seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Oleh karena itu, pendekatan disiplin positif harus didasarkan pada pemahaman akan keterhubungan semua aspek: perkembangan anak, pembelajaran, pencapaian akademik, kesehatan, ekonomi, keadaan keluarga dan komunitas (masyarakat).
Didasarkan pada kekuatan anak: penerapan disiplin positif didasarkan pada kesadaran bahwa setiap anak memiliki kekuatan, kemampuan dan talenta, dan setiap tindakan pendidikan (termasuk disiplin) bertujuan mendorong dan membangun kemampuan, usaha dan perkembangan mereka. Kesalahan tidak dilihat sebagai kegagalan melainkan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.
Konstruktif:
Disiplin positif menekankan pada peran pendidikan dalam menumbuhkan penghargaan
diri anak dan kepercayaan diri, mengembangkan kemerdekaan dan kemandirian, dan
mengembangkan self-efficacy. Daripada menghukum anak karena kesalahan akademis
dan perilaku tidak pantas anak, pendidik lebih baik menjelaskan,
mendemostrasikan dan meneladankan konsep dan perilaku yang dapat dipelajari anak.
Pendidik lebih baik mencoba memahami dan menuntun anak secara positif daripada
mencoba mengontrol perilaku anak.
Inklusif: Disiplin positif menghargai perbedaan setiap individual anak dan kesamaan hak. Semua anak dilibatkan dalam setiap proses pendidikan. Dalam disiplin positif, menekankan pada pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, kekuatan, kemampuan social dan gaya belajar anak yang terintegrasi dalam proses belajar di kelas dan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Pendidik juga harus mengidentifikasi dan memahami tantangan/hambatan belajar dan mencari cara yang efektif untuk menuntun proses belajar anak.
Proaktif:
Disiplin positif focus dalam membantu anak berhasil pada masa yang akan dating
tidak sekadar simultan. Pendidik harus merespon permasalahan dengan fokus pada
pemahaman akan akar masalah kesulitan belajar dan masalah perilaku anak dibanding
memberikan respon reaktif. Oleh karena itu disiplin positif fokus pada apa yang dapat dipelajari anak di masa
yang akan datang, tidak sekadar menghentikan perilaku yang sedang terjadi.
Partisipatori: Disiplin positif melibatkan anak dalam mengambil keputusan dan memahami tindakan mereka. Dengan prinsip ini anak akan belajar karena mereka dilibatkan dalam proses belajar mereka sendiri. Disbanding mengontrol dan menekan, pendidik mendengarkan pendapat dan perspektif anak dan melibatkan mereka menciptakan lingkungan belajar, kelas, keluarga, sekolah dan masyarakat yang mendukung proses belajar.

Prinsip-prinsip yang mendasari disiplin positif di atas dapat kita sederhanakan dalam
7 prinsip dalam penanaman disiplin positif bagi anak, yaitu:
- Hormati harkat dan martabat anak
- Kembangkan
perilaku, kedisiplinan diri, dan karakter yang ramah
- Maksimalkan
partisipasi anak secara aktif
- Hormati
kebutuhan perkembangan dan kualitas kehidupan anak
- Hormati
motivasi dan pandangan hidup anak
- Terapkan
kejujuran, kesetaraan, non-diskriminasi, dan keadilan
- Utamakan
solidaritas
PENERAPAN DISIPLIN
POSITIF:
Mengenali dan Memahami Perilaku Tidak Pantas (Misbehave)
Memahami latar belakang tindakan
anak
Perilaku
adalah sesuatu yang dapat dipahami dan mempunyai suatu tujuan. Perilaku atau
pun tindakan tidak datang tiba-tiba, tanpa alasan dan tujuan. Anak melakukan
sesuatu untuk suatu alasan tertentu meskipun mereka tidak memahami alasan
tersebut. Oleh karena itu penting untuk mencoba memahami dan melihat dunia
sebagaimana anak memahami dan melihatnya. Selain itu, orang dewasa (baik orang
tua maupun guru) harus mencoba mengerti persoalan yang mungkin mempengaruhi
bagaimana anak bertindak di dalam kelas dan di rumah. Kita harus bertanya pada
diri kita sendiri jikalau mereka mengalami kesulitan akan keadaan kelas dan
sekolah atau sesuatu dari luar kelas dan sekolah yang mungkin penyebab dari
persoalan tersebut. Dengan demikianlah kita bisa memulai merespon perilaku anak
dengan bijaksana, percaya diri dan efektif.
Sumber : Handout Disiplin Positif bagi Pendidik yang diterbitkan oleh Unicef
Komentar
Posting Komentar